Sunday, August 25, 2013

MENGANALISIS DAN MENULIS LAPORAN


BAHAN AJAR KELAS VIII SEMESTER 1




A. Menganalisis  Laporan
Laporan merupakan suatu keterangan mengenai suatu peristiwa atau perihal yang ditulis berdasarkan berbagai data, fakta, dan keterangan yang melingkupi peristiwa atau perihal tersebut.
Laporan mengenai peristiwa atau perihal yang bersifat penting atau resmi biasanya disampaikan dalam bentuk tulisan. Menganalisis laporan berarti melakukan suatu kajian atau penelitian terhadap suatu laporan. Hal yang dianalisis dalam laporan dapat meliputi isi peristiwa, kronologi waktu, kelengkapan data, kebahasaan, dan bentuk laporan.Supaya dalam menganalisis laporan yang kalian simak dapat memberikan hasil yang maksimal, kalian perlu memerhatikan halhal berikut.
1. Menyimak laporan dengan saksama, sehingga dapat menangkap informasi yang disampaikan secara utuh dan
lengkap serta terperinci.
2. Melakukan pengecekan terhadap setiap hal yang dilaporkan secara detail dan cermat.
3. Tidak mencampuradukkan antara fakta (yang bersifat objektif) dan opini atau pendapat (yang cenderung bersifat subjektif).
4. Melakukan kajian terhadap kebenaran atau ketepatan hasil laporan tersebut.
Sebagai bahan referensi mengenai menganalisis laporan, simaklah laporan yang akan dibacakan salah satu teman kalian berikut.

Heru Wicaksono, Diplomat RI Tokoh Penting Pembebasan Sandera Korsel
Krisis sandera 23 warga Korea Selatan oleh kelompok pejuang Taliban di Afganistan selama 1,5 bulan menjadi berita utama di media seluruh dunia. Menjelang krisis berakhir, muncul nama Diplomat Indonesia Heru Wicaksono dalam penyelesaian krisis tersebut. Upaya penyelesaian melibatkan tiga pihak, yakni pemerintah Korsel, kelompok pejuang Taliban, dan pemerintah Afganistan. Namun, upaya penyelesaian tersebut belum
juga berhasil. Pejuang Taliban menuntut agar Korsel segera menarik seluruh pasukannya dari Afganistan. Tuntutan pejuang Taliban tersebut sulit dipenuhi oleh dua pihak lainnya. Sampai empat kali ketiga pihak berunding, tapi Dari situlah Indonesia mulai terlibat. Pemerintah Korsel, meminta kepada Presiden SBY, agar Indonesia terlibat dalam perundingan pembebasan sandera. Permintaan ini disampaikan Presiden Roh Moon Hyun saat berkunjung ke Seoul, 25 Juli 2007. Permintaan itu segera direspons Presiden SBY. Presiden SBY memerintahkan Menlu Hasan Wirayudha untuk mendekati kelompok pejuang Taliban. Oleh Menlu, perintah
Presiden SBY diteruskan ke Dubes Indonesia di Kabul, Erman Hidayat. Menlu Hasan Wirayudha meminta Erman Hidayat agar menghubungi pemerintah Afganistan untuk memastikan bahwa keterlibatan Indonesia sepenuhnya didukung oleh kelompok pejuang Taliban.
Bermula dari hal tersebut, Erman Hidayat kemudian menugaskan Heru Wicaksono bergabung dalam kelompok perunding. Heru Wicaksono ialah Wakil Dubes RI di Afganistan. Dalam tugasnya, Heru Wicaksono didampingi oleh penerjemah seorang warga Afganistan yang bekerja di Kedubes RI. Heru menuturkan bahwa kehadirannya
dalam perundingan difasilitasi oleh IRC (Palang Merah Internasional). Pada awalnya, Heru khawatir kehadiran Indonesia ditolak oleh pejuang Taliban. Namun, rasa khawatir itu lenyap saat tim Indonesia bertemu pimpinan
pejuang Taliban. Pertemuan itu terjadi pada Kamis, 30 Agustus. "Ternyata mereka sangat respek ketika mengetahui bahwa yang menjadi mediator perundingan adalah negara netral. Tidak seperti yang dibayangkan orang bahwa kaum Taliban itu barbar, proses perundingan yang diatur Kamis kemarin berlangsung sangat kondusif," ungkap Heru.
Dalam perundingan tersebut, dikemukakan bahwa pejuang Taliban sebenarnya tidak ingin menyandera kedua puluh tiga warga Korsel tersebut. Mereka hanya ingin pemerintah Korsel menarik 200 pasukan noncombatnya dari Afganistan. Menurut Heru, dalam perundingan antara Korsel dengan Taliban tersebut, pejuang Taliban hanya meminta Korsel menarik pasukannya dari wilayah Afganistan. Akhirnya juru runding Korsel berjanji menarik 200 pasukannya dari wilayah Afganistan. Setelah permintaannya dipenuhi, juru runding pejuang
Taliban langsung menyatakan setuju melepaskan para sandera. Prestasi diplomat Indonesia dalam perundingan tersebut langsung mendapatkan apresiasi Presiden Roh Moon Hyun. Melalui telepon seluler, Moon  mengucapkan terima kasih kepada Presiden SBY.

                                                                                                        (Sumber: Jawa Pos, 2 September 2007, dengan pengubahan seperlunya)


Perlu diketahui bahwa ada beberapa langkah dalam menganalisis laporan. Beberapa langkah yang dapat membantu dalam proses menganalisis laporan adalah berikut.
1. Memahami isi laporan dari bentuk, isi, maupun kebahasaan.
2. Menguraikan secara detail atau rinci pokok-pokok isi laporan.
3. Memberikan suatu pandangan atau pendapat terhadap laporan berdasarkan suatu teori atau definisi (referensi).

Setelah menyimak dengan cermat dan memahami isi laporan tersebut, kalian dapat menuliskan pokok-pokok isi laporan sebagaimana contoh berikut.
1. Krisis sandera 23 warga Korea Selatan oleh kelompok pejuang Taliban di Afganistan melibatkan Indonesia.
2. Upaya penyelesaian yang melibatkan tiga pihak, yakni pemerintah Korsel, kelompok pejuang Taliban, dan
pemerintah Afganistan, belum juga berhasil.
3. Pemerintah Korsel, melalui Presiden Roh Moon Hyun meminta kepada Presiden SBY agar Indonesia terlibat
dalam perundingan pembebasan sandera.
4. Permintaan itu segera direspons Presiden SBY dengan memerintahkan Menlu Hasan Wirayudha untuk mendekati kelompok pejuang Taliban.
5. Heru Wicaksono yang menjabat sebagai Wakil Dubes RI di Afganistan bergabung dalam kelompok perunding yang difasilitasi oleh IRC (Palang Merah Internasional).
6. Dalam perundingan tersebut, dikemukakan bahwa pejuang Taliban hanya ingin pemerintah Korsel menarik 200 pasukan noncombat-nya dari Afganistan.
7. Pejuang Taliban langsung menyatakan setuju melepaskan para sandera setelah juru runding Korsel berjanji menarik 200 pasukannya dari wilayah Afganistan.
8. Prestasi diplomat Indonesia dalam perundingan tersebut langsung mendapatkan apresiasi Presiden Roh Moon
Hyun. Melalui telepon seluler, Moon mengucapkan terima kasih kepada Presiden SBY.

Contoh hasil analisis terhadap laporan tersebut adalah berikut.
1. Laporan tersebut merupakan laporan mengenai peristiwa keterlibatan Indonesia yang diwakili oleh Wakil Dubes RI,Heru Wicaksono, untuk Afganistan, dalam peristiwapenyanderaan oleh pejuang Taliban.
2. Dari segi bentuk penyampaian, laporan tersebut disampaikan dalam bentuk narasi dengan model penyampaian
bahasa yang tidak resmi atau nonilmiah.
3. Kronologi waktu kejadian yang berkenaan dengan peristiwa disampaikan secara urut, tapi kurang mendetail.
4. Data dan penjelasan pendukung belum disampaikan secara lengkap dan terperinci.

B. Menulis Laporan
Dalam komunikasi, terdapat jenis teks yang berisi rincian keadaan. Misalnya, kamu membaca laporan hasil belajarmu di rapor, membaca laporan jumlah warga di RT/RW, atau laporan hasil ujian seluruh siswa SMP di kotamu. Laporan-laporan tersebut memiliki bentuk yang khusus. Dari kegiatan membaca laporan, pernahkan kalian mengidentifikasi hal-hal apa sajakah yang terdapat dalam sebuah laporan? Persiapan apa yang diperlukan sebelum seseorang menulis laporan? Kamu akan belajar menyusun laporan keadaan melalui kegiatan berikut.
Aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi menulis laporan adalah (1) mengamati laporan keadaan, (2) menentukan hal-hal yang akan diamati, (3) menyusun laporan keadaan, (4) menyunting laporan yang disusun, (5) menggunakan bahasa baku dalam laporan, (6) mengamati contoh penyuntingan karangan, dan (7) berlatih menyunting.
1.       Mengamati Laporan Keadaan
Perhatikan contoh laporan keadaan berkut



LAPORAN KEPENDUDUKAN RT 001 KELURAHAN DUREN KELAPA,
KECAMATAN DUREN BESAR, JAKARTA TIMUR
(1) Pengantar
Sensus tentang keadaan penduduk dilakukan untuk mendapatkan data akurat tentang kondisi penduduk di suatu daerah. Sensus yang dilaporkan dilakukan di wilayah RT 001 RW 011 Kelurahan Duren Kelapa, Kecamatan Duren Besar, Wilayah Kota Jakarta Timur. Luas wilayah yang disensus adalah 55.480 m2. Keluarga yang disensus sejumlah 82 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 315 orang dan jumlah bangunan rumah 78 buah.
(2) Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk RT 001 RW 011 Kelurahan Duren Kelapa, Kecamatan Duren Besar, Wilayah Kota Jakarta Timur sejumlah 315 orang terdiri atas 152 orang laki-laki dan 163 orang wanita. Dilihat dari usianya, penduduk yang berumur 0--5 tahun berjumlah 49 orang (24 laki-laki dan 25 perempuan), yang berumur 6--12 tahun ada 41 orang (22 laki-laki dan 25 perempuan), yang berumur 13--17 tahun berjumlah 45 orang (20 laki-laki dan 25 perempuan), yang berumur 18--60 tahun ada 172 orang (80 laki-laki dan 92 perempuan), dan yang berusia di atas 60 tahun ada 8 orang (6 laki-laki dan 2 orang perempuan).
(3) Agama
Warga RT 001 RW 011 Kelurahan Duren Kelapa ini sebagian besar beragama Islam, yaitu sebanyak 280 orang (134 laki-laki dan 146 perempuan). Agama Katolik dianut oleh 12 orang (5 orang laki-laki dan 7 perempuan). Agama Kristen Protestan dianut oleh 10 orang (7 laki-laki dan 3 perempuan). Agama Hindu Bali dianut oleh 5 orang (3 laki-laki dan 2 perempuan), sedangkan agama Budha dianut oleh 2 orang (1 laki-laki dan 1 perempuan). Adapun yang menganut agama Kong Hu Cu ada 7 orang (2 laki-laki dan 5 perempuan).
(4) Pendidikan
Mengenai pendidikan dibagi tiga kelompok, yaitu warga yang belum sekolah, warga yang sedang sekolah, dan pendidikan terakhir warga. Tercatat 49 anak balita yang belum sekolah (24 anak laki-laki dan 25 perempuan). Yang sedang belajar di SD sejumlah 41 orang (22 laki-laki dan 10 perempuan). Yang sedang belajar di SMP ada 22 orang (12 laki-laki dan 10 perempuan). Yang belajar di SLTA ada 23 orang (8 laki-laki dan 15 perempuan). Terakhir yang sedang mengikuti kuliah di perguruan tinggi ada 21 orang (9 laki-laki dan 12 perempuan). Penduduk dewasa yang tamat SD ada 21 orang (6 laik-laki dan 15 perempuan), tamat SD ada 26 orang (8 laki-laki dan 18 perempuan), tamat SLTP ada 59 orang (30 laki-laki dan 29 perempuan), tamat SLTA ada 43 orang (25 laki-laki dan 18 perempuan), dan yang tamat perguruan tinggi ada 10 orang (8 laki-laki dan 2 perempuan).
(5) Pekerjaan
Pekerjaan penduduk bervariasi. Penduduk yang berada pada usia kerja adalah 159 orang (77 laki-laki dan 82 perempuan). Yang bekerja menjadi pegawai negeri ada 38 orang (17 laki-laki dan 21 perempuan), yang menjadi anggota TNI ada 6 orang (5 laki-laki dan 1 perempuan), yang bekerja pada perusahaan swasta ada 62 orang (35 laki-laki dan 27 perempuan), yang bekerja wira usaha ada 20 orang (17 laki-laki dan 3 perempuan), dan yang tidak bekerja ada 33 orang (3 laki-laki dan 30 perempuan).
(6) Etnis/Suku Bangsa
Dilihat dari segi etnis, penduduk di RT 001 RW 011 ini berasal hampir dari seluruh Indonesia. Yang terbanyak adalah orang Sunda yakni berjumlah 47 orang, orang Betawi ada 43 orang, orang Jawa 40 orang, orang Minang 11 orang, orang Tapanuli ada 9 orang, orang Manado ada 10 orang, orang Bali ada 7 orang, orang Makassar ada 8 orang, Banjar ada 10 orang, Maluku ada 8 orang, orang Aceh ada 5 orang, orang Palembang ada 8 orang, orang Sumbawa ada 4 orang, dan keturunan Cina ada 15 orang.
Demikian laporan kependudukan yang dibuat oleh Ketua RT 001 RW 011 yang dikirimkan ke kantor Kelurahan Duren Kelapa, Kecamatan Duren Besar, Wilayah Kota JakartaTimur.


Diskusikanlah dengan kelompokmu hal-hal berikut!
a. Apa yang dilaporkan?
b. Hal-hal apa saja yang dilaporkan?
c. Bagaimana cara penulis laporan mendapatkan informasi?
d. Bagaimana penggunaan bahasa dalam laporan?
Berdasarkan hasil diskusi itu kamu akan mengetahui isi laporan (apa yang dilaporkan dan rinciannya), cara mendapatkan informasi, dan ragam bahasa laporan.
2. Menentukan Hal-hal yang akan Diamati
Untuk menyusun laporan perlu direncanakan hal-hal yang akan diamati. Diskusikan dengan temanmu hal-hal berikut!
Judul laporan : . . . .




C. Menyusun Laporan Keadaan
Setelah kalian mendiskusikan hal-hal yang akan diamati dalam laporan, coba tulislah draf (tulisan awal/buram) laporan berkaitan dengan keadaan daerahmu! Misalnya, keadaan warga berdasarkan data yang ada di RT/RW di daerahmu, laporan dari data di puskesmas, kantor polisi, atau lembaga lain yang ada di sekitarmu! Sebelum melakukan pengamatan ke tempat-tempat yang akan kamu kunjungi, rencanakan kegiatanmu dengan berdiskusi tentang hal-hal berikut!
a. Tentukan tempat yang akan dikunjungi!
b. Tentukan informasi apa saja yang akan dicari!
c. Tentukan bagaimana cara memperoleh informasi itu!
d. Tentukan kapan kegiatan pengamatan akan dilakukan!
e. Bagilah tugas untuk tiap-tiap anggota kelompok tentang pekerjaan yang akan dilakukan!
D. Menyunting Laporan yang Disusun
Setelah kalian selesai menyusun draf laporan, laporan akan dinilai/dikomentari dari segi (1) kesesuaian informasi dengan objek/hal yang dilaporkan, (2) kelengkapan rincian (detail informasi) yang seharusnya dilaporkan, (3) penggunaan kalimat, (4) penggunaan kata baku, dan (5) ketepatan penggunaan tanda baca/ejaan. Hasil komentar itu akan membantumu untuk melakukan penyuntingan laporan.
E. Menggunakan Bahasa Baku dalam Laporan
Bahasa baku adalah bahasa dengan kaidah tata bentukan kata, tata makna, tata kalimat, dan tata cara penulisan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Bahasa baku digunakan pada komunikasi resmi/formal. Pada majalah remaja, bahasa yang digunakan bukan bahasa baku. Kata-kata gaul sering digunakan dalam majalah remaja. Ciri kata tidak baku mencakup (1) menyalahi tata bentukan kata yang standar (contoh: ngeliat, mengucapin, dimarahin), (2) menggunakan ragam lisan (contoh: bilang, bikin, nggak), (4) menggunakan kata dengan penulisan secara tidak tepat (contoh: hipotesa, kharisma, analisa), (5) tercampur dengan kosakata daerah (contoh: kayaknya, kok ) (6) penghilangan imbuhan atau suku kata tertentu (contoh: gitu, gini, ngaruh, ngirim, njaring), dan (7) pengubahan vokal (contoh: dateng, dapet).
Daftarlah kata tidak baku yang ada pada laporan yang telah kalian tulis. Gantilah dengan kata-kata baku semua kata tidak baku yang kalian temukan! Buatlah tabel seperti contoh berikut!







6. Mengamati Contoh Penyuntingan Karangan
Amatilah contoh penyuntingan karangan berikut!

MEMBANGUN SEMANGAT MENGHARGAI PERBEDAAN
Bangsa kita adalah bangsa yang uniek. Beragam perbedaan-perbedaan lengkap kita miliki. Bangsa kita terdiri atas beragam suku, ada jawa, ada sunda, ada bali, ada batak, dan masih banyak lagi lainnya. Masing-masing suku di negeri kita tercinta ini memiliki beragam bahasa, budaya, adapt-istiadat. Beragam agama dan keyakinan dianut oleh masyarakat bangsa kita. Beragam partai, beragam aliran keagamaan hidup subur dibumi nusantara ini.
Perbedaanpun tampak dari tiap individu kita. Coba kita tengok diri kita sendiri, apa yang berbeda antara diri kita dengan teman sekelas kita. Kita mungkin berbeda agama, berbeda suku, berbeda etnis, berbeda warna kulit, berbeda makanan dan minuman kesukaan, berbeda status ekonomi, berbeda dalam hal intelegensi, berbeda watak, dan masih banyak lagi perbedaan. Itulah pakta yang tidak dapat kita ingkari dan justru harus kita syukuri karena dengan perbedaan itu wajah negeri ini menjadi semarak dengan warna warni keragaman.
Banyaknya perbedaan ini memiliki dua sisi mata uang. Apabila semangat kebersamaan selalu dibangun dan ditumbuh kembangkan akan menuai keindahan, namun bila semangat kecurigaan yang ditumbuhsuburkan, akan menuai beragam badai bencana. Kita melihat Ambon, Poso luluh lantak, tanah yang subur dipenuhi dengan darah putera negeri ini karena perbedaan dijadikan pemicu perpecahan. Perbedaan dijadikan ancaman, tidak dijalin untuk membangun kemesraan bersama.
Membangun semangat menghargai perbedaan perlu terus didengung dengungkan supaya bangsa ini tidak mudah panas bila berbeda, tidak mudah gatal bila berbeda, tidak berprasangka negatif kepada kelompok yang berbeda, tidak merasa diri yang terbaik. Semangat membangun kebersamaan untuk menciptakan kehidupan yang aman dan perlu terus dikobarkan.
Format Deteksi Kesalahan


CATATAN:
     Ide yang dikemukakan dalam tulisan itu cukup bagus, padat, sesuai, dan bermanfaat, tetapi perlu rujukan atau tambahan data yang memadai untuk meyakinkan pembaca. Penulisan tanda baca, huruf, dan tata bentukan kata perlu kecermatan!

KEGIATAN KREATIF
Setelah membaca dan mengamati dengan saksama contoh penyuntingan naskah, diskusikan dengan teman sebangkumu hal-hal berikut!
Apakah yang dimaksudkan dengan kegiatan menyunting?
Aspek-aspek apa sajakah yang perlu disunting dari sebuah naskah?
Bekal apa yang harus dimiliki oleh seorang penyunting?
F. Berlatih Menyunting
      Menyunting adalah kegiatan menyiapkan naskah siap cetak atau siap untuk diterbitkan dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (mencakup ejaan, diksi, dan struktur). Setiap penulis perlu melakukan kegiatan penyuntingan. Menyunting biasanya dilakukan lebih dari sekali. Tidak hanya dilakukan oleh diri sendiri tetapi juga perlu bantuan orang lain agar hasilnya lebih cermat dan lebih objektif. Penyuntingan dilakukan karena dirasakan bahwa tulisan mempunyai banyak kekurangan dan perlu perbaikan.

AYO BERLATIH!
a. Suntinglah penggalan bacaan berikut ini!
Sidik jari terbentuk seiring proses pembentukan otak manusia selama berada didalam rahim. Pola guratan sidik jari setiap orang-orangpun berbeda sesuai dengan berkembangan sistem syaraf otak. Oleh karena iru sidik jari dapat digunakan untuk mengenali bakat dan potensi seseorang.
b. Suntinglah karya temanmu dengan langkah sebagai berikut!
1) Bentuklah beberapa kelompok!
2) Letakkan laporan yang telah ditulis kelompok pada sebuah meja pameran!
3) Setiap kelompok akan mendatangi meja pameran dan akan menyunting laporan yang ditulis kelompok lain.
4) Tandai kesalahan-kesalahan pada laporan temanmu!
 5) Tulis ulang kalimat hasil perbaikan kelompokmu!
  

Sunday, May 6, 2012

HUBUNGAN LATAR CERPEN DENGAN REALITAS SOSIAL


 Bentuk-bentuk Karya sastra


Menurut bentuknya, kesusastraan dibagi menjadi:

1.Puisi
Puisi adalah hasi cipta manusia yang terdiri atas satu atau beberapa lari (baris) yang memperlihatkan pertalian makna dan membentuk bait.
Keidahan puisi terletak pada persamaan bunyi (rima, sajak) dan iramanya.
Berdasarkan zamannya, puisi dapat dibagi menjadi:

1)Puisi Lama
Puisi lama ialah puisi yang sifatnya masih asli dan belum mendapat pengaruh dari barat.
Puisi lama meliputi: mantra, pantun, syair, bidal dan talibun.
(akan dibahas sendiri klik di arsip)

2)Puisi Baru
Puisi baru ialah puisi yang isi, bentuk, dan iramanya telah berubah dan isinyapun lebih luas dan lebih lincah.
Berdasarkan jumlah barisnya, puisi baru terbagi menjadi:
a.Distikhsan atau sajak dua seuntai
b.Terzina atau sajak tiga seuntai
c.Kuantren atau sajak empat seuntai
d.Kuint atau sajak lima seuntai
e.Sektet atau sajak enam seuntai
f.Septina atau sajak tujuh seuntai
g.Okta/stanza atau sajak 8 seuntai
h.Soneta sajak yang terdiri dari empat baris dan empat bait.
Umumnya berpola 4-4-3-3

2.Prosa
Prosa adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang panjang, bebas, rinci dalam teknik pengungkapannya.
Berdasarkan zamannya prosa dikelompokkan menjadi dua:
1)Prosa Lama
Prosa lama terdiri atas:
a.Hikayat
b.Cerita-cerita panji
c.Cerita berbingkai
d.Tambo
e.Dongeng  
 2) Prosa baru
Prosa baru terdiri atas cerita rekaan (fiksi) dan prosa yang non fiksi (berisi fakta)
a.Cerita rekaan meliputi
-Roman
-Novel
-Cerpen
b.Prosa nonfiksi meliputi:
*Biografi
*Kritik
*Esai


3.Drama
Drama adalah karya yang ditulis dalam bentuk percakapan (dialog) yang dipertunjukkan oleh tokoh-tokoh di atas pentas. Drama digolongkan ke dalam beberapa bagian, yaitu drama dalam bentuk tertulis dan drama yang dipentaskan. Naskah drama biasanya mempergunakan kalimat-kalimat langsung yang lengkap dengan penjelasan tentang sikap, gerakan, latar, dan cara pengungkapan kalimat yang harus dilakukan para pelakunya.

Unsur-unsur drama yang membanru dalam pementasan, sebagai berikut:
1.Babak adalah bagian dari lakon drama.
2.Adegan adalah bagian dari pertunjukkan drama.
3.Prolog adalah kata pengantar atau pendahuluan sebuah lakon.
4.Dialog adalah percakapan di antara para pelaku atau pemain dalam sebuah pementasan.
    1.Monolog adalah percakapan diantara para pelaku.
    2.Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri sebuah pertunjukkan drama.
    3.Mimik adalah eksperesi raut wajah pemain untuk memberi gambaran emosi yang sesuaidengan alasan cerita

Jenis-jenis drama:
1.Tragedi drama yang diwarnai kesedihan.
2.Komedi ialah drama yang diwarnai kegembiraan (lucu)
3.Tragedy-komedi ialah drama yang lucu dan sedih
4.Pantonim ialah drama yang hanya menampilkan mimic dan gerak

HUBUNGAN LATAR/SETTING CERPEN DENGAN REALITAS SOSIAL


CERPEN adalah cerita pendek yang bersifat rekaan, tetapi logis atau masuk akal. Cerpen dibangun dari beberapa unsur: tokoh, watak, alur (plot), latar (setting), dan sudut pandang.
***
          “Bagaimana cara menghubungkan antara latar dengan realitas social?
Bacalah cerpen “Berenang Phobia”  berikut !

Berenang Phobia

           “Ayo, Zeni. Asyik, kok. Nggak dalem. Beneran, deh.” Rens berteriak memanggilku mencoba meyakinkan aku kaluau kolam itu tak dalam. Tetap saja aku takut berenang. Aku takut tenggelam.” Aku seperti anak-anak yang hanya berani berenang di bak mandi. Saat ini usiaku 17 tahun. 7 tahun lamanya aku takut berenang.
           “Ayolah, Zeni. Temani aku berenang…!”
Aku geleng-geleng kepala. Kejedian tujuh tahun lalu muncul kembali.

7 tahun yang lalu…
         “Papa…..a… Mama…a….Kakak….” aku berteriak sekuat tenaga berharap ada yang menolongku. Aku hampir tenggelam. Napasku mulai sesak.
        “Toloooong, papa…..mama…..toloooong…kakak…..” aku berteriak untuk yang terakhir kali sampai akhirnya semua menjadi sunyi dan gelap.
***
        Aku tersadar dari kejadian silam. Kuhapus keringat di wajahku dengan handuk kecilku.
       “Rentz, aku pulang duluan, ya.” Kulambaikan tanganku kea rah Rents yang masih asyik berenang.
       “Zeni, tunggu aku. Kita barenang pulangnya.” Rentz segera keluar dari air ketika melihat aku mulai beranjak. Aku mengambil tasku di loker penitipan sambil menunggu Rentz berganti pakaian.
       “Oke, ayo kita cabut.” Rentz menepuk pundakku. Aku menoleh ke arahnya yang tampak cerita. Senyum Rentz sangat manis.
Aku bangkit dan segera beranjak menghampiri Rentz.
      “Maaf Zen tadi aku memaksamu untuk menemaniku berenang. Kamu marah, ya?”
Aku geleng kepala.
     “Aku hanya ingin mengembalikanmu speti dulu. Zeni yang suka berenang. Zeni yang pernah dapat juara 3 lomba berenang.” Rentz mencoba memberiku semangat.
     “Aku tau kejadian itu masih menghantuimu sehingga membuatmu trauma. Sampai kapan kau akan seperti ini? Kata dokter traumamu bisa pulih jika kamu berusaha bangkit dari rasa takutmu.”
***
       Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Pikiranku melayang. Entah akan berlabuh kemana. Batinku tak tenang ketika kejadian itu mulai muncul. Kalimat Rents tadi menghantui pikiranku.
      “Apa aku bisa?" Kupejamkan mataku yang sudah mulai lelah hingga akhirnya aku terlelap.
       “Papa…….mama…a….. toloooong…..Kakaka……tolooong….”
Aku mulai gelisah. Teriakan itu membuat batinku tak tenang dalam alam tak sadarku. Teriakan itu mulai jelas.
     “Papa…a….mama…..tolooooooong….kak Zeni….i…i…”
Aku tersentak kaget. Aku tersadar dari alam tidurku. Memori otakku kembali normal. Teriakan itu sangat jelas. Itu adalah suara Dina, adik bungsuku yang berusia 6 tahun.
Aku segera berlari mencari sumber suara. Saat itu papa dan mama belum pulang dari kantor. Kak Dito belum pulang sekolah. Jadi hanya ada aku, adik, dan bibi.
Tepet di kolam renang. Kulihat Dina timbul tenggelam sambil menepuk-nepuk air berusaha berenang. Kejadian 7 tahun lalu muncul kembali. Aku terpaku diam, kaku tak mampu berkata.
    “Kak Zeni tolong!” psuara itu mulai lemas dan sepi. Tak lagi kulihat Dina di sana. Tanpa sadar aku langsung terjun dan menarik tubuh Dina ke tepian kolam. Aku mengangkat tubuh adikku yang sudah terbujur kaku. Denyutnya lemah. Sekujur tubuhnya pucat
      “Adik….bangun….dik, bangun sayaaaang… kak Zeni sudah ada di dekat adik. Kakak sayang sama Dina. Jangan tinggalin kakak”
Aku menggoyang-goyang tubuh Zeni. Tak ada reaksi. Aku menyesal telah membiarkan Dina tenggelam
      “Mamaaaaaa…..” aku berteriak. Sepi dan semua menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.
***
Aku membuka mataku. Menatap mengitari sekeliling ruangan. Aku sudah berada di kamarku. Kulihat papa, mama, dan Kak Dito di dekatku. Mereka menangis. Aku kembali mengingat kejadian sebelumnya.
     “Dina…..” aku menangis perih.
“Iya, kak. Dina di sini. Dina juga sayang sama kakak.” Dina tiba-tiba muncul dari pintu kamarku. Kulihat wajahnya masih pucat. Ia berjalan ke arahku dan memelukku hangat.
     “Syukurlah… kakak tak akan sanggup jika harus kehilanganmu.”
        "Sudah baca ceritanya, kan? nah, kalau udah, simak penjelasan berikut ini!"

Hubungan latar/setting cerpen "Berenang Phobiadengan realitas sosial:
              Latar/setting yang ada jika dikaitakn dengan keadaan sosial pada saat itu bahwa pada umumnya orang yang pernah mengalami kejadian buruk dalam dirinya akan mengalami trauma sehingga membuat orang tersebut sulit berinteraksi dengan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Terkadang membuat orang tersebut menjadi minder. Hal ini memberi gambaran tentang keadaan sosial yang dialami seseorang yang mengalami trauma dan sulit berinteraksi dengan orang di sekelilingnya yang berhubungan dengan peristiwa buruk tersebut.
Bacalah cerita “Aku Seorang Pengecut” berikut !

Aku Seorang Pengecut

Aku terus mengengkol sepedaku dengan kencang. 10 menit lagi pukul 7. Jika aku tak mengengkol sepedaku dengan laju, maka aku akan terlambat. Waktu yang ditempuh dari tempatku saat ke sekolah memakan waktu 15 menit. 10 menit lagi bel masuk berbunyi.
Keadaan di jalan raya sangat padat. Lalu lalang kendaraan tak henti-hentinya. Beragam macam karakter orang yang berlalu lalang. Akhirnya, aku tiba di perempatan jalan.
“Mampus aku. Lampu merah pula. Gawat waktuku terbuang.” Aku semakin kesal.
Di pinggir jalan kulihat seorang kakek tua ditodong oleh 2 orang perampok. Mereka yang berlalu lalang di sekitar kejadian pura-pura tak melihat. Aku ingin menolong kakek itu, tetapi…… lampu hijau tiba-tiba menyala.
Aku segera memacu sepedaku lebih laju lagi. Kuurungkan niatku menolong. Aku takut dihukum guru karena terlambat. Entah bagaimana nasib si kakek. Aku mencoba melupakannya. Anggap saja aku tak melihat kejadian itu.
Aku tiba di sekolah tepat pukul 7. Untunglah tak terlambat. Luar biasa….aku mampu memacu sepedaku dengan kencang.
“Robert, cepat berlari! Gerbang akan segera ditutup. “Teriak satpam.
Aku berlari ngos-ngosan. Setiba di kelas, aku bernapas lega karean guru jam pertama belum masuk ke kelas.
Teng…teng…teng…
Bel istirahat berbunyi. Kulihat Mona menenteng tasnya sambil menangis. Aku menghampirinya.
“Mau kemana, Mon?” tanyaku penasaran. Mona ini sahabat karibku sejak TK. Kami berteman sangat akrab.
“Aku dijemput papaku, Bert. Kata papa kakekku masuk RS Antonius karena kepalanya terbentur di aspal. Pagi tadi kakek diserang 2 orang perampok. Kakek memberontak, sehingga terjadi tarik menarik. Kakek akhirnya terjatuh dan terhempas di aspal.
Sejenak aku terdiam. Apa mungkin kakek tadi adalah kakek Mona?
“Di mana kejadiannya?” tanyaku untuk memastikan.
“Di perempatan jalan sekitar jam 7 kurang.”
Aku tertunduk lesu. Ternyata, aku seorang pengecut.
“Kakek itu, kakek sahabatku Mona. Maafkan aku Mona.”

Latar/ setting yang ada dalam cerita “Aku Seorang Pengecut” dikaitkan dengan keadaan sosial pada saat itu bahwa hubungan kekerabatan masyarakat perkotaan tidak kuat sehingga membuat orang-orang tidak saling peduli. Mereka hanya peduli dengan orang-orang terdekat seperti hubungan keluarga, teman, rekan sekerja saja, dan orang lain yang dikenal. Berbeda dengan di desa, hubungan kekerabatan antar anggota masyarakat sangat kuat. Hidup saling tolong, bergotong royong, dan saling peduli dengan keadaan yang lain. Dalam cerita dijelaskan keadaan jalan raya sangat ramai, kemudian ada orang yang berlalu lalang melihat si kakek yang dihadang oleh komplotan perampok, tetapi mereka pura-pura tidak melihat. Hai itu merupakan gambaran keadaan sosial masyarakat di perkotaan.